Mengenal Lebih Dekat Kampung Peristirahatan Raja Majapahit di Nganjuk

nganjuk
Penampilan drama sejarah Majapahit berlatar Candi Ngetos, di Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, yang diperankan oleh siswa-siswi SMA Negeri 3 Nganjuk (matakamera/foto : IG @wi_cha) 
Sabtu, 11 Februari 2017 

NGANJUK, matakamera.net – Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, adalah sebuah perkampungan kecil di lereng Gunung Wilis. Perkampungan ini berjarak sekitar 15 kilometer di selatan pusat kota. Lokasinya juga dikelilingi dengan kawasan hutan jati dan pinus, yang menjadi pembatas alami dengan kampung-kampung lain.

Menurut riwayat prasasti Hindu Jawa, Raja Hayam Wuruk di zaman Majapahit abad 14 membangun candi khusus di desa ini yang diberi nama Candi Ngetos. Candi ini kemudian menjadi tempat penyimpanan abu jenazah saja raja, ketika wafat tahun 1389 Masehi. 

Raja bergelar Maharaja Sri Rajasanegara itu minta disemayamkan di desa ini, karena lokasinya langsung menghadap 'muka' Gunung Wilis. Gunung yang dikeramatkan oleh Umat Hindu, berhawa sejuk, dan masyarakatnya yang menjunjung tinggi seni kebudayaan Jawa.

"Candi batu-bata itu memiliki panjang 9,1 meter dan tinggi 10 meter, berdiri tegak dikelilingi rumah-rumah penduduk,” ucap Aries T. Effendi, pegiat wisata Nganjuk sekaligus perawat Candi Ngetos.

nganjuk
workshop dan galeri batik yang dibuka untuk umum di kompleks Candi Ngetos

Suasana sekitarnya juga kental dengan nuansa Jawa klasik. Karena sampai saat ini, penduduk setempat masih punya keahlian turun-temurun memproduksi kain batik tulis berkualitas. Selain itu, mereka juga tetap melestarikan warisan peradaban Jawa kuno lainnya, seperti pembuatan batu-bata dari tanah liat secara manual. 

"Masih bertahan sampai sekarang. Wisatawan yang ingin melihat dan mencoba langsung bagaimana membuat batu-bata, juga bisa," kata Aries.

nganjuk
Di dekat workshop batik Ngetos, juga terdapat lokasi produksi batu-bata tradisional

Khusus untuk seni membatik, terdapat kelompok anak-anak muda yang rutin berkumpul setiap hari di rumah Aries, yang juga dijadikan workshop sekaligus tempat wisatawan berkunjung. Rumahnya hanya berjarak kurang dari 10 meter dari Candi Ngetos. “Dari jaman nenek moyang, orang sini memang pandai membatik,” ujar Aries yang hampir setiap hari melatih batik anak-anak, remaja hingga orang dewasa ini.

Didorong semangat ingin melestarikan budaya tradisional itulah, Aries memilih mengembangkan kerajinan batik khusus batik tulis. Dua tahun berjalan, sudah ratusan turis dari sekitar Jawa Timur dan kota-kota besar yang tertarik datang, sambil belajar langsung melukis batik pada lembaran kain.

Aries pun sedikit memodifikasi corak dengan memasukkan warna-warni pelangi, sehingga lebih menyenangkan untuk orang awam, bahkan anak-anak. Adapun pakem motifnya tetap mengadopsi corak batik khas Nganjuk, berupa keanekaragaman hayati di hutan Gunung Wilis. 

Antara lain daun-daunan, pohon, satwa endemik, hingga corak khas Anjuk Ladang. "Sensasinya beda jika belajar membatik di kampung Raja Hayam Wuruk,” ujar Aries.

Para wisatawan yang berkunjung ke desanya, juga tidak hanya diajak belajar membatik. Jika memiliki waktu lebih, Aries pun siap mengajak wisatawan berpetualang di pedesaan yang masih alami. Antara lain, mengunjungi Candi Ngetos dan mempelajari sejarah bangunan yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Raja Hayam Wuruk tersebut.

Pada waktu-waktu tertentu, wisatawan juga bisa dimanjakan dengan sajian makan siang di tengah sawah, dengan menu sambal lalapan khas pedesaan. “Pada musim tanam padi, wisatawan juga bisa mencoba alat bajak sawah tradisional, yang ditarik sapi,” pungkasnya.

Rif/Pas/2017
nganjuk
Anak-anak pun tidak ketinggalan mencoba teknik menggambar corak batik Ngetos


Share on Google Plus

About matakamera.net

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System